Minggu, 13 November 2011

LINGKUP ASUHAN NEONATUS, BAYI DAN BALITA


  • Bayi Baru Lahir Normal
  • Bayi Baru Lahir Bermasalah

  • Kelainan-Kelainan Pada Bayi Baru Lahir

  • Trauma Pada Bayi Baru Lahir
  • Neonatus Beresiko Tinggi
  • Kegawatdaruratan 
  • Neonatus, Bayi Dan Anak Balita Dengan Penyakit Yang Lazim Terjadi

 I. BAYI BARU LAHIR NORMAL

A.   Definisi

Bayi lahir melalui proses persalinan sampai dengan usia 4 minggu dengan usia gestasi 38 – 42 minggu dan mampu menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin.       

B.   Pembagian
1.        Neonatal dini
2.        Neonatal lanjut

C.   Tanda-tanda BBL Normal

1.        Berat badan 2.500 – 4.000 gram.
2.        Panjang badan 46 – 50 cm.
3.        Sudah terbentuk lapisan lemak di bawah kulit.
4.        Kulit halus dan hampir tidak ada lanugo.
5.        Terdapat verniks caseosa.
6.    Kuku melebihi ujung jari

D.   Penanganan Bayi Baru Lahir

1.        Bersihkan jalan nafas
Kebanyakan bayi baru lahir akan bernafas spontan tanpa bantuan, dewasa ini masih banyak bidan yang secara rutin berusaha keras untuk membuat bayi bernafas, atau membersihkan jalan nafas (mengeluarkan lendir) dengan menggunakan alat penghisap lendir. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi tidak memerlukan tindakan tersebut (Tyson, Silverman de reisch, 1989). Tidak ada bukti bahwa aspirasi rutin jalan nafas BBL memberikan keuntungan (Tyson, 1992) bahkan akan dapat membahayakan jiwa (bila tidak dilakukan dengan benar).
Memasukkan suatu alat ke jalan nafas BBL, terutama untuk melakukan penghisapan lendir di daerah farink harus dikerjakan dengan melihat secara langsung (Carasco, Martell dan Estol, 1997).
2.        Memotong dan merawat tali pusat
-     Penjepitan dan pemotongan tali pusat
       Untuk menjepit dan memotong tali pusat sering dikaitkan dengan manajemen kala III dan pemberian obat oksitisoka. Diketahui bahwa saat untuk melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat akan mempengaruhi jumlah darah yang mengalir pada BBL dari sirkulasi feto-plasental (oh, blandkenship & lind, 1996).
Karena itu direkomendasikan 1 – 2 menit untuk memotong tali pusat, ketika tali pusat telah berhenti berdenyut. Hal itu akan memberi kesempatan bagi bayi untuk mendapatkan jumlah darah yang cukup dari sirkulasi plasenta sehingga menghindari anemia pada neonatus.
Sebelumnya orang mengira bahwa penggunaan obat oksitosika pada manajemen kala III, tali pusat perlu dijepit dan dipotong segera setelah bayi lahir. Alasannya untuk lebih cepat menjepit dan memotong tali pusat adalah menghindari aliran darah yang berlebihan memasuki sirkulasi darah bayi, pada saat uterus berkontraksi. Pemberian obat oksitosika menyebabkan kontraksi uterus yang kuat dan mengakibatkan darah lebih banyak dialirkan atau mengakibatkan tranfusi berlebih. Namun sekarang diketahui bahwa kebanyakan BBL yang cukup umur dan sehat dapat beradaptasi baik dengan transisi ini dan tidak akan mengalami efek samping yang membahayakan. Oleh karena itu tidak ada keuntungan dengan menjepit dan memotong tali pusat secara dini (dunn, frasser dan raper, 1996, dunn 1985, hofmann, 1985). Namun penjepitan dan pemotongan secara dini dianjurkan untuk kasus tertentu, misalnya pada ibu dengan resus negatif. Dengan menjepit dan memotong tali pusat secara dini akan mengurangi resiko auto imunisasi pada ibu dengan resus negatif dan mencegah transfer antibody dari sirkulasi ibu. Namun suatu studi menemukan bahwa penjepitan dan pemotongan tali pusat dini akan berakibat darah dari janin (plasenta) masuk kembali ke sirkulasi darah ibu yang mengakibatkan sensitisasi lebih lanjut dan produksi antibody pada ibu lebih banyak (lapido, 1972). Penjepitan dan pemotongan tali pusat dini juga dianggap dapat mengurangi insiden ikterus fisiologis pada BBL (prendville, harding dkk, 1985, moss & monset couchard, 1967). Ada bukti yang menyatakan bahwa penjepitan dan pemotongan tali pusat dini dapat menganggu pemenuhan kebutuhan hemoglobin BBL dengan membatasi jumlah aliran darah ke BBL (hofmann, 1985). Ini sangat penting bagi BBL dengan berat lahir rendah, premature dan sebelumnya mengalami gawat janin.
Para ahli WHO menyimpulkan : untuk persalinan normal tidak ada indikasi untuk melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat dini. Dianjurkan untuk menunda penjepitan dan pemotongan tali pusat sekurang-kurangnya 1 – 2 menit untuk memungkinkan proses fisiologis yang alami, terjadi kecuali ada alasan kuat yaitu pada resus autoimunisasi (WHO, 1996).
Banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa perlu penelitian lebih lanjut untum mengetahui saat yang tepat melakukan penjepitan dan pemotongan tali puat. Karena menunda menjepit dan memotong tali pusat dapat menambah jumlah darah yang mengalir ke bayi, maka para ahli WHO merekomendasikan bagi negara-negara Asia Tenggara karena kejadian BBLR yang tinggi.
-     Merawat tali pusat
Banyak pendapat tentang cara terbaik untuk merawat tali pusat. Telah dilaksanakan beberapa uji coba klinis untuk membandingkan cara penanganan tali pusat yang berbeda-beda dan semuanya menunjuk-kan hasil yang serupa.
Suatu studi yang dilakukan oleh Brain (1993), menunjukkan bahwa dengan apus alkohol dan diikuti taburan bedak antiseptik dapat mempercepat waktu lepasnya tali pusat. Tapi pada suatu uji coba klinis besar, ditemukan bahwa meskipun bedak antiseptik dapat mempercepat pelepasan tali pusat lebih dini, namun luka bekas tali pusat tersebut lebih lama sembuhnya (mungford, somchicwong den waterhouse, 1986).
Untuk diwaspadai bagi negara-negara yang beriklim tropis, peng-gunaan alkohol yang populasi dan terbukti efektif, di daerah panas alkohol mudah menguap dan terjadi penurunan efektifitasnya. Bedak antiseptik juga dapat kehilangan efektivitasnya terutama dalam suasana kelembaban tinggi (bila tidak selalu dijaga biar selalu dingin dan kering), sehingga penggunaan bahan tersebut mengakibatkan peningkatan infeksi.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan membiarkan tali pusat mengering, tidak ditutup dan hanya membersihkan setiap hari menggunakan air bersih, merupakan cara paling efektif untuk  perawatan tali pusat. Penting dinasehatkan kepada ibu dan mereka yang membantu merawat bayi agar tidak membubuhkan apapun dan hendaknya tali pusat dibiarkan tetap terbuka dan kering.
3.        Mempertahankan suhu tubuh bayi
  • Sebagian besar hanya membutuhkan ruangan yang hangat, bersih dan observasi ketat. Segera berikan pada ibu untuk dihangatkan tubuhnya dan mendapatkan ASI (WHO, 1998), dengan pelayanan dari petugas kesehatan yang terlatih dan penuh perhatian. Hanya sebagian kecil BBL yang membutuhkan bantuan dalam melewati masa transisi kehidupan ekstra uterin. Dengan demikian penemuan secara dini dan tindak lanjut segera sangat dibutuhkan.
  • Memberikan ASI kepada bayi sesegara mungkin setelah lahir, idealnya 1 jam pertama juga merupakan perlindungan efektif bagi BBL terhadap infeksi dan membantu mencegah kehilangan panas serta penurunan kadar glukosa darah, yang dapat mengakibatkan hipotermi (Van den bosch dan bulough, 1990, WHO/UNICEF, 1 989).
  • Kehangatan merupakan masalah penting karena banyak BBL mengalami kesulitan untuk mempertahankan suhu badannya. Oleh karena itu disarankan agar semua BBL segera dikeringkan untuk dibungkus dengan kain yang sebelumnya dihangatkan dahulu. Memandikan bayi sebaiknya ditunda, sampai BBL mampu mengatur suhu tubuhnya degnan lebih baik. Penundaan dilakukan sampai ibu telah menyusui bayinya. Beberapa ibu mungkin tidak bisa menerima hal ini terutama telah apabila ada darah di kulit di kepala bayi.
  • Pada keadaan tersebut, disarankan untuk membersihkan secepatnya dengan menggunakan air hangat/minyak, keringkan bayi dengan cepat dan bungkus bayi (pastikan daerah kepala tertutup) dengan kain yang dihangatkan terlebih dahulu. Kemudian berikan bayi pada ibunya untuk dipeluk atau berikan ASI pada bayi (meskipun bayi tertutup kain, suhu tubuh ibu akan memberikan kehangatan bagi bayi).
  • Sulit untuk menilai suhu tubuh bayi dengan termometer, tempat terbaik untuk menilai apakah suhu tubuh bayi baru lahir dingin/tidak adalah dengan meraba abdomen bayi dan merasakan dingin/tidak.
4.        Identifikasi yang cukup
  • Apa bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannya lebih dari satu persalinan maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan pada setiap BBL dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
*     Peralatan identifikasi BBL selalu tersedia di tempat penerimaan pasien, di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi.
*     Alat yang digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek, tidak mudah lepas.
*     Pada alat/gelang identifikasi harus mencakup :
-     Nama (bayi, nyonya)
-     Tanggal lahir
-     Nomor bayi
-     Jenis kelamin
-     Nama lengkap ibu
*     Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nama identifikasi.
  • Sidik telapak kaki dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan yang tidak mudah hilang. Sidik telapak kaki bayi harus oleh personil yang berpengalaman menerapkan cara ini dan dibuat dalam catatan bayi.
  • Upaya pencegahan infeksi pada BBL dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1)    Letakkan bayi di dada ibu.
*     Kontak kulit bayi dan ibu sedini mungkin telah lahir menyebabkan terjadinya kolonisasi mikroorganisme yang ada di kulit dan saluran cerna bayi dengan mikroorganisme ibu (cenderung bersifat non patoge) dan zat antibody yang sudah terbentuk dan terkandung dalam ASI.
*     Bayi akan terpapar secara dini sekaligus, terlindung dari organisme-organisme tersebut yang kekebalan aktifnya baru terbentuk di kemudian hari.
2)    Lakukan rawat gabung ibu dan bayi
*     Bayi ditidurkan di tempat tidur ibu atau berpisah, tetapi masih pada satu ruangan dengan tujuan supaya ibu bebas dan mudah dalam merawat bayinya.
*     Membiarkan bayi dengan ibunya serta memberi kesempatan ibu merawat bayinya dapat menghilangkan bahaya bayi terkena infeksi silang.
3)    Perawatan mata (pencegahan dan tindakan pada infeksi mata BBL)
*     Tanda-tanda
-      Terdapat tanda-tanda konjungtivitis disertai kotoran mata (pus) selama 2 minggu pertama setelah lahir.
-      Biasanya timbul 2 – 5 hari setelah lahir/akhir minggu ke 2 (hari ke 13)
-      Kedua kelopak mata bengkak
-      Mata merah disertai nanah/pus
*     Penyebab
-      Neiserria gonnorhoea dan clamidya trachomatis
-      Infeksi karena gonococcus komplikasi dapat lebih berat dan lebih cepat
-      Angka penularan akibat gonnorhoea dari ibu yang terinfeksi ke bayinya sekitar 30 – 50%
*     Pencegahan
-      Cuci tangan terlebih dahulu
-      Bersihkan kedua mata segera setelah bayi lahir dengan kapas/sapu tangan halus yang telah dibasahi dengan air hangat.
-      Berikan salep mata tetrasiklin 1% atau salep mata eritromicyn 0,5% 1 jam setelah lahir
-      Cuci tangah
*     Tindakan
Adanya pus di mata BBL menunjukkan bayi menderita infeksi mata, oleh karena itu lakukan tindakan sebagai berikut:
-      Berikan antibiotik yang sesuai setiap hari selama 5 hari
-      Ajarkan pada ibu cara mengobati infeksi mata : cuci tangan.

B. BAYI BARU LAHIR BERMASALAH
Pada umumnya bayi baru lahir mempunyai masalah yang diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Bercak mongol
2.    Hemangioma
3.    Ikterik
4.    Muntah dan gumoh
5.    Oral thrush
6.    Diaper rush
7.    Seborrhea
8.    Bisulan/furunkel
9.    Milliriasis
10.  Diare
11.  Obstipasi
12.  Infeksi
13.  Bayi meninggal mendadak

 C. KELAINAN-KELAINAN PADA BBL

Meliputi :
  • Gangguan pertumbuhan dan pembentukan organ tubuh anensefalo, ginjal, tunggal, mikrosefali, mikrofialmia (ukuran lebih kecil).
  • Gangguan penyatuan/fusi jaringan tubuh.  Misal : labiognatopalatoksis, spina bifida (celah pada tulang belakang).
  • Gangguan diferensiasi organ/alat. Misal : sindaktili, horse shoe kidney.
  • Gangguan menghilang/berkurangnya jaringan. Misal : divertikulum mickel, kista brachial, kista breoglosus, sakkus hernia inguinalis persisten dan lain-lain.
  • Gangguan ivaginasi jaringan. Misal : atresia ani, atresia vagina dan lain-lain.
  • Gangguan migrasi suatu alat. Misal : testis tidak turun, malrotasi usus, dll. 
  • Gangguan pembentukan saluran-saluran. Misal : hipospadia (saluran uretranya tidak di ujung glans penis), atresia esofagus, dll.
  • Reduplikasi suatu alat. Misal : polidaktili, double ureter, dll.
  • Hipertrofi suatu jaringan. Misal : stenosis piloris kongenital, hipertrofi adrenal, dll.
  • Pertumbuhan yang tidak terkendali. Misal : angioma.

D. Kelainan Kongenital
Etiologi :
·          Faktor genetik/kromosom
Misal : buta warna
·          Faktor mekanik/tekanan
Misal : kelainan tallipes (kaki membengkak) macam : tallipes.
·          Faktor infeksi
Misal : seorang ibu yang mempunyai penyakit rubella maka bayinya akan menderita penyakit katarak.
·          Faktor obat
Misal : talidamit ® menyebabkan kematian.
·          Faktor umur ibu
Pada ibu yang umur > 40 tahun bila hamil maka anak yang dilahirkan akan menderita penyakit mongolisme/sindrom down.
·          Faktor hormonal
Ibu pada DM (gangguan insulin) ® mikrosom.
·          Faktor radiasi
·          Faktor gizi
·          Faktor-faktor lain
Misal : hipoksia, hipotermi, hipertermi (kejang).




E. TRAUMA PADA BAYI BARU LAHIR
  • Perlukaan jaringan lunak
-      Perlukaan kulit.
-      Eritema, petekie dan ekimosis (sering terjadi pada persalinan persentasi muka).
-      Caput suksedaneum ® 2 – 3 hari hilang (benjolan pada kepala bagian luar).
-      Cephal hematoma ® sering pada partus dengan vacum/partus lama.
-      Perdarahan subponeurotik.
-      Trauma muskulus sterno kleidomastoideus.
-           Nekrosis kulit serta jaringan.
-           Perdarahan subkonjungtiva ® sembuh 1 – 2 minggu.
  • Perlukaan susunan saraf
-      Paralysis pleksus brakhialis (brachial palsy) ® lengan.
-      Paralysis nervus facialis (facial palsy) ® muka.
-      Paralysis nervus frenikulus  ® diafragma (gejala dispnea).
-      Kerusakan medulla spinalis ® terjadi pada letak sungsang, presentasi muka.
-      Paralysis pita suara ® terjadi gangguan suara/avonia.
  • Perdarahan intrakranial
-           Perdarahan subdural ® adanya tekanan mekanik pada thorax.
-           Perdarahan subpendial dan perdarahan intravertikuler.
-           Perdarahan subarachnoid ® terjadi pada bayi yang mengalami anoxia, premature.
  • Patah tulang
-           Fraktur klavikula
-           Fraktur humeri
-           Fraktur femoris
-           Fraktur tengkorak
  •  Perlukaan lain
-      Perdarahan intra abdominal


F. NEONATUS BERESIKO TINGGI
Bayi beresiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian dari pada bayi lain. Istilah bayi beresiko tinggi digunakan untuk menyatakan bahwa bayi memerlukan perawatan dan pengawasan ketat. Pengawasan dapat dilakukan beberapa jam sampai beberapa hari. Pada umumnya resiko tinggi terjadi pada bayi sejak lahir sampai usia 28 hari yang disebut neonatus. Hal ini disebabkan kondisi atau keadaan bayi yang berhubungan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim.
Penilaian dan tindakan yang tepat pada bayi beresiko tinggi sangat penting karena dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat menimbukan cacat/kematian.

G. Klasifikasi Bayi Beresiko Tinggi

Bayi resiko tinggi sering diklasifikasi berdasarkan berat badan lahir, umur kehamilan, dan adanya masalah pada fisiologi yang menyertai bayi tersebut. Secara umum, masalah fisiologi berkaitan erat dengan status kematangan bayi dan gangguan kimia (misalnya : hipoglikemia, hipokalsemia) dan konsekuensi dari ketidakmatangan organ dan sistem (misalnya : hiperbilirubinemia, sindrom gawat nafas, hipotermia).
Di bawah ini akan diuraikan penggolongan bayi resiko tinggi berdasarkan klasifikasi di atas :
1.       Klasifikasi berdasarkan berat badan
Semua bayi yang lahir berat badannya kurang dari 2500 gram disebut BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah).
a.    Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan < 1000 gram.
b.    Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan < 1500 gram.
c.    Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan 1501 – 2500 gram.
2.       Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan
a.    Bayi premature adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum mencapai 37 minggu.
b.    Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38 – 42 minggu.
c.    Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 42 minggu.
3.       Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan dan berat badan
a.    Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir dengan keterlambatan pertumbuhan intra-uterin dengan berat badan terletak dibawah persentil ke 10 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.
b.    Bayi sesuai untuk masa kehamilan (SMK) yaitu bayi yang lahir dengan berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan yaitu berat badan terletak antara persentil ke 10 dan ke 90 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.
c.    Bayi besar untuk masa kehamilan yaitu bayi yang lahir dengan berat badan lebih besar untuk usia kehamilan dengan berat badan terletak diatas persentil ke 90 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.
4.       Klasifikasi berdasarkan masalah patofisiologi
Semua neonatus yang lahir disertai masalah patofisiologis/mengalami gangguan fisiologis. Secara umum, masalah fisiologis berkaitan erat dengan gangguan kimia (misalnya : hipoglikemia, hipokalsemia) dan konsekuensi dari ketidakmatangan organ dan sistem (misalnya : hiperbilirubinemia, sindrom gawat nafas, hipotermia).

H.  KEGAWATDARURATAN 

Segala sesuatu yang berpengaruh tidak baik pada janin dan neonatus pada masa kehamilan dan sesudah melahirkan yang mengakibatkan terjadinya ganggu-an adaptasi dan juga bisa meninggal.

Kegawatdaruratan pada BBL

Kegawatdaruratan pada BBL, meliputi :
1.       Asfiksia neonaturum
2.       Sepsis neonaturum
       Yaitu masuknya kuman disertai dengan manifestasi klinis, misal : panas.
3.       Hipotermi
4.       Kejang
5.       Perdarahan

Pada asfiksia bayi perlu diresusitasi karena :
·          ± 10% BBL perlu bantuan untuk memulai pernafasan.
·          ± 1% BBL perlu resusitasi ekstensif.
·          90% BBL menjalani proses adaptasi tanpa masalah.
·          Asfiksia lahir menjadi penyebab ± 19% dari 5 juta kematian neonatus/tahun di seluruh dunia (WHO, 1995).

I. NEONATUS, BAYI DAN ANAK BALITA DENGAN PENYAKIT YANG LAZIM TERJADI 
Neonatus, bayi dan anak balita dengan penyakit yang lazim terjadi meliputi :
1.    Neonatus dan bayi dengan masalah serta penatalaksanaannya
Neonatus dan bayi dengan masalah meliputi :
a.    Bercak mongol
b.    Hemangioma
c.    Ikterik
d.    Muntah dan gumoh
e.    Oral thrush
f.    Diaper rush
g.    Seborrhea
h.    Bisulan/furunkel
i.     Milliriasis
j.     Diare
k.    Obstipasi
l.     Infeksi
m.   Bayi meninggal mendadak
2.    Asuhan neonatus dengan jejas persalinan
a.    Caput suksedaneum
b.    Cephalhematoma
c.    Trauma pada flexus branchialis
d.    Fraktus klavikula dan fraktus humerus
3.    Neonatus dengan kelainan bawaan, meliputi :
a.    Labioskisis dan labiopalatoskisis
b.    Atresia esofagus
c.    Atresia rekti dan anus
d.    Hirschprung
e.    Obstruksi biliaris
f.    Omfalokel
g.    Hernia diafragmatika
h.    Atresia duodeni
i.     Meningokel, ensefalokel
j.     Hidrosefalus
k.    Fimosis
l.     Hipospadia
m.   Kelainan metabolik dan endokrin
4.    Neonatus resiko tinggi, diantaranya :
a.    BBLR
b.    Asfiksia neonaturum
c.    Sindrom gangguan pernafasan
d.    Ikterus
e.    Perdarahan tali pusat
f.    Kejang
g.    Hypotermi
h.    Hypertermi
i.     Hipoglikemi
j.     Tetanus neonaturum
k.    Penyakit yang diderita ibu selama kehamilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar